Petuah Jawa

Kidung Rumeksa ing Wengi
—————————————–
karya : Kanjeng Sunan KaliJogo ( Kanjeng Raden Said )

Kanjeng Sunan
yang mau download mp3 nya silahkan download disini – http://www.4shared.com/get/MZaCRlu1/-kidung_rumeksa_ing_wengi.html
ini merupakan gabungan antara kebudayaan jawa dan Do’a agama islam, banyak makna terkandung didalamnya, Diantaranya adalah Do’a meminta dari kesembuhan penyakit dan dijauhkan dari bala.
cekidot
Ana kidung rumekso ing wengi
Teguh hayu luputa ing lara
luputa bilahi kabeh
jim setan datan purun
paneluhan tan ana wani
miwah panggawe ala
gunaning wong luput
geni atemahan tirta
maling adoh tan ana ngarah ing mami
guna duduk pan sirno

Sakehing lara pan samya bali
Sakeh ngama pan sami miruda
Welas asih pandulune
Sakehing braja luput
Kadi kapuk tibaning wesi
Sakehing wisa tawa
Sato galak tutut
Kayu aeng lemah sangar
Songing landhak guwaning
Wong lemah miring
Myang pakiponing merak

Pagupakaning warak sakalir
Nadyan arca myang segara asat
Temahan rahayu kabeh
Apan sarira ayu
Ingideran kang widadari
Rineksa malaekat
Lan sagung pra rasul
Pinayungan ing Hyang Suksma
Ati Adam utekku baginda Esis
Pangucapku ya Musa

Napasku nabi Ngisa linuwih
Nabi Yakup pamiyarsaningwang
Dawud suwaraku mangke
Nabi Brahim nyawaku
Nabi Sleman kasekten mami
Nabi Yusuf rupeng wang
Edris ing rambutku
Baginda Ngali kuliting wang
Abubakar getih daging
singgih
Balung baginda ngusman

Sumsumingsun Patimah linuwih
Siti aminah bayuning angga
Ayup ing ususku mangke
Nabi Nuh ing jejantung
Nabi Yunus ing otot mami
Netraku ya Muhamad
Pamuluku Rasul
Pinayungan Adam Kawa
Sampun pepak sakathahe para nabi
Dadya sarira tunggal

Arti dalam bahasa Indonesia
——————————————–
Ada kidung yang mengalun di tengah malam
Yang menjadikan kuat selamat terbebas dari semua penyakit
Terbebas dari segala petaka
Jin dan setanpun tidak mau
Segala jenis sihir tidak berani
Apalagi perbuatan jahat
guna-guna tersingkir
Api menjadi air
Pencuripun menjauh dariku
Segala bahaya akan lenyap

Semua penyakit pulang ketempat asalnya
Semua hama menyingkir dengan pandangan kasih
Semua senjata tidak mengena
Bagaikan kapuk jatuh dibesi
Segenap racun menjadi tawar
Binatang buas menjadi jinak
Pohon ajaib, tanah angker,
lubang landak, gua orang,
tanah miring dan sarang merak

Kandangnya semua badak
Meski batu dan laut mengering
Pada akhirnya semua slamat
Sebab badannya selamat dikelilingi oleh bidadari,
yang dijaga oleh malaikat, dan semua rasul dalam lindungan Tuhan
Hatiku Adam dan otakku nabi Sis
Ucapanku adalah nabi Musa

Nafasku nabi Isa yang teramat mulia
Nabi Yakup pendenganranku
Nabi Daud menjadi suaraku
Nabi Ibrahim sebagai nyawaku
Nabi Sulaiman menjadi kesaktianku
Nabi Yusuf menjadi rupaku
Nabi Idris menjadi rupaku
Ali sebagai kulitku
Abubakar darahku dan Umar dagingku
Sedangkan Usman sebagai tulangku

Sumsumku adalah Fatimah yang amat mulia
Siti fatimah sebagai kekuatan badanku
Nanti nabi Ayub ada didalam ususku
Nabi Nuh didalam jantungku
Nabi Yunus didalam otakku
Mataku ialah Nabi Muhamad
Air mukaku rasul dalam lindungan Adam dan Hawa
Maka lengkaplah semua rasul, yang menjadi satu badan

sungguh luar biasa!!!!
****************************************************************************************************


Dua puluh Aksara Jawa yang tersusun dalam empat baris itu dalam sejarahnya memiliki muatan cerita :

Ono Caroko = ada utusan (abdi setia)
Doto Sawolo = saling berseteru
Podho Joyonyo = sama-sama sakti
Mogo Bothongo = Keduanya jadi bangkai
Filsafat Jawa kuno ini mengajarkan diperlukannya koordinasi, sinergi, komunikasi satu sama lain dan juga mawas diri.

sedangkan arti dari persatu katanya adalah
HA NA CA RA KA:
Ha: Hurip = hidup
Na: Legeno = telanjang
Ca: Cipta = pemikiran, ide ataupun kreatifitas
Ra: Rasa = perasaan, qalbu, suara hati atau hati nurani
Ka: Karya = bekerja atau pekerjaan.

Jadi HA NA CA RA KA bisa ditafsirkan bahwa manusia “dihidupkan” atau dilahirkan ke dunia ini dalam keadaan “telanjang”. Telanjang di sini dalam artian tidak mempunyai apa-apa selain potensi. Oleh karena itulah manusia harus dapat mengembangkan potensi bawaan tersebut dengan cipta-rasa-karsa. Cipta-rasa-karsa merupakan suatu konsep segitiga (segitiga merupakan bentuk paling kuat dan seimbang) antara otak yang mengkreasi cipta, hati/kalbu yang melakukan fungsi kontrol atau pengawasan dan filter (dalam bentuk rasa) atas segala ide-pemikiran dan kreatifitas yang dicetuskan otak, serta terakhir adalah raga/tubuh/badan yang bertindak sebagai pelaksana semua kreatifitas tersebut (setelah dinyatakan lulus sensor oleh rasa sebagai badan sensor manusia).
Secara ideal memang semua perbuatan (karya) yang dilakukan oleh manusia tidak hanya semata hasil kerja otak tetapi juga “kelayakannya” sudah diuji oleh rasa. Rasa idealnya hanya meloloskan ide-kreatifitas yang sesuai dengan norma. Norma di sini memiliki arti yang cukup luas, yaitu meliputi norma internal (perasaan manusia itu sendiri atau istilah kerennya kata hati atau suara hati) atau bisa juga merupakan norma eksternal (dari Tuhan yang berupa agama dan aturannya atau juga norma dari masyarakat yang berupa aturan hukum dll).
(2) DA TA SA WA LA: (versi pertama)

Da: Dodo = dada
Ta: Toto = atur
Sa: Saka = tiang penyangga
Wa: Weruh = melihat
La: lakuning Urip = (makna) kehidupan.

DA TA SA WA LA berarti dadane ditoto men iso ngadeg jejeg (koyo soko) lan iso weruh (mangerteni) lakuning urip. Dengarkanlah suara hati (nurani) yang ada di dalam dada, agar kamu bisa berdiri tegak seperti halnya tiang penyangga dan kamu juga akan mengerti makna kehidupan yang sebenarnya.
Kata “atur” bisa berarti manage dan juga evaluate sedangkan dada sebenarnya melambangkan hati (yang terkandung di dalam dada). Jadi dadanya diatur mengandung arti bahwa kita harus senantiasa me-manage (menjaga-mengatur) hati kita untuk melakukan suatu langkah evaluatif dalam menjalani kehidupan supaya kita dapat senantiasa berdiri tegak dan tegar dalam memandang dan memaknai kehidupan. Kita harus senantiasa memiliki motivasi dan optimisme dalam berusaha tanpa melupakan kodrat kita sebagai makhluk Alloh yang dalam konsep Islam dikenal dengan ikhtiar-tawakal, ikhtiar adalah berusaha semaksimal mungkin sedangkan tawakal adalah memasrahkan segala hasil usaha tersebut kepada Alloh.

DA TA SA WA LA: (versi kedua)

Da-Ta (digabung): dzat = dzat
Sa: Satunggal = satu, Esa
Wa: Wigati = baik
La: Ala = buruk

DA TA SA WA LA bisa ditafsirkan bahwa hanya Dzat Yang Esa-lah (yaitu Tuhan) yang benar-benar mengerti akan baik dan buruk. Secara kasar dan ngawur saya mencoba menganggap bahwa kata “baik” di sini ekuivalen dengan kata “benar” sedangkan kata “buruk” ekuivalen dengan “salah”. Jadi alangkah baiknya kalau kita tidak dengan semena-mena menyalahkan orang (kelompok) lain dan menganggap bahwa kita (kelompok kita) sebagai pihak yang paling benar.

(3) PA DHA JA YA NYA:
PA DHA JA YA NYA = sama kuat
Pada dasarnya/awalnya semua manusia mempunyai dua potensi yang sama (kuat), yaitu potensi untuk melakukan kebaikan dan potensi untuk melakukan keburukan. Mungkin memang benar ungkapan bahwa manusia itu bisa menjadi sebaik malaikat tetapi bisa juga buruk seperti setan dan juga binatang. Mengingat adanya dua potensi yang sama kuat tersebut maka selanjutnya tugas manusialah untuk memilih potensi mana yang akan dikembangkan. Sangat manusiawi dan lumrah jika manusia melakukan kesalahan, tetapi apakah dia akan terus memelihara dan mengembangkan kesalahannya tersebut? Potensi keburukan dalam diri manusia adalah hawa nafsu, sehingga tidak salah ketika Nabi Muhammad SAW menyatakan bahwa musuh terbesar kita adalah hawa nafsu yang bersemayam dalam diri kita masing-masing.

(4) MA GA BA THA NGA:
Ma: Sukma = sukma, ruh, nyawa
Ga: Raga = badan, jasmani
Ba-Tha: bathang = mayat
Nga: Lungo = pergi

Secara singkat MA GA BA THA NGA saya artikan bahwa pada akhirnya manusia akan menjadi mayat ketika sukma atau ruh kita meninggalkan raga/jasmani kita. Sesungguhnya kita tidak akan hidup selamanya dan pada akhirnya akan kembali juga kepada Alloh. Oleh karena itu kita harus senantiasa mempersiapkan bekal untuk menghadap Alloh.
***********************************************************************************************
NYEBAR GODHONG KORO
NYEBAR GODHONG KORO, SABAR SAKWETORO…Harfiah nasihat Mbah ini berarti bahwa kita harus sabar mulai sedini mungkin dan mulai sekarang juga dalam segala hal dalam kehidupan… toh kesabaran itu tiada batasannya.
contoh kesabaran tiada batas ada banyak, salah satunya adalah: sabarlah jika Alloh SWT menjadi Tuhanmu, jika tak sabar cari saja Tuhan yang lain :P
dan sabar itu setengah dari iman kita, jadi yang bisa menguasai sabar dalam hatinya, dia sudah mendapatkan iman setengah dari hidup kita :)…. sabar memang pahit, namun hasil kesabaran itu adalah manis.
contoh: apabila kita sedang sakit duh ga enak rasanya, duh lagi sakitmah makan paria juga pait :D…sebenarnya sakit itu adalah kifarat dari dosa kita, maka sabarlah,, apabila sudah sembuh hilanglah dosa kita :) amiiinnn…

JER BASUKI MOWO BEYO
Harfiah dari petuah jawa ini mengandung arti : semua keberhasilan selalu membutuhkan pengorbanan :)

ING MADYO MANGUN KARSO

Ing madyo mangun karso, pribahasa ini mengandung makna : Bahwa perubahan besar bermula dari sebuah langkah kecil

arti lebih besarnya Keinginan,Cita-cita dan Harapan yang besar/tinggi tidak akan terwujud kecuali kita memperjuangkannya, dan perjuangan berawal dari merangkak/langkah yang kecil…

ALON ALON ASAL KELAKON

Memang Alon alon adalah arti dari pelan-pelan atau perlahan, tapi kan sampai juga!… Alon alon asal kelakon dalam kehidupan mengandung makna Sabar, santai saja perlahan-lahan saja yang penting sampai di tujuan dengan selamat, dan terkabul segala keinginan….

OJO DUMEH

Ojo Dumeh hanya dua kata tapi mengandung makna yang BESAR sekali bahkan sebagian orang beranggapan Ojo Dumeh adalah pribahasa sapu jagat,, makna dari ojo dumeh itu adalah jangan sombong, jangan semena mena, jangan mentang-mentang… menurut penelitian (ciyeeee) saya selalu mengadakan wawancara, berbincang dan survey sebagian dari para orang-orang tua atau si Mbah, Ojo dumeh itu harfiahnya adalah ungkapan menasehati contoh : Ojo Dumeh gek kuoso, mengko nek dadi diece uwong…. (indonesia) = Jangan mentang-mentang berkuasa nanti bisa-bisa kamu direndahkan oleh orang lain… ada pula: Ojo Dumeh gek urip, mengko pasti mati… (indonesia) = Jangan mentang-mentang bisa hidup bertingkah laku seenaknya , nanti kamu pasti mati… ada pula: Ojo Dumeh iso ngomong, mengko nek dadi bisu… (indonesia) = Jangan mentang-mentang bisa bicara, bicara seenaknya melukai hati orang lain, nanti kalo bisu baru tau rasa… dan masih banyak lagi, makanya ini pribahasa adalah sapu jagat kata si Mbah… awas loh bisi kualat heuheuheu….

SEPI ING PAMRIH RAME ING GAWE

Wong njawi, Tiang njawi atau Orang Jawa selalu memegang teguh dalam hati Semboyan yang ada dari zaman nenek moyang… sepi ing pamrih rame ing gawe arti harfiahnya adalah = selalu bekerja, berkarya, berkorban tenaga, jiwa bahkan nyawa untuk membela apa yang menjadi keyakinan….. bekerja dan berkorban tiada henti demi Negara, Agama, Tanah Air yang di cintai tanpa sedikitpun pamrih…. saya sendiri ingin selalu memegang teguh semboyan ini hingga hembusan nafas terakhir… orang jawa yakin Walau didunia ini berkorban tanpa pamrih.. di akherat nanti mendapat kejayaan yang panjang tiada akhir!!!! Amiin

BECIK KETITIK OLO KETORO

Becik ketitik olo ketoro adalah pribahasa yang mengandung makna dan arti jika suatu kebenaran/ perbuatan baik ditutup-tutupi maka lambat laun ia akan muncul juga, dan sepandai-pandainya menyimpan bangkai busuk/ perbuatan tercela dan kebusukan hati maka lama-lama baunya akan tercium juga.
***********************************************************************************************

Figur Wayang

Semar, Gareng, Petruk, Bagong

Dalam perkembangan selanjutnya, hadirnya Semar sebagai pamomong keturunan Saptaarga tidak sendirian. Ia ditemani oleh tiga anaknya, yaitu; Gareng, Petruk, Bagong. Ke empat abdi tersebut dinamakan Panakawan. Dapat disaksikan, hampir pada setiap pegelaran wayang kulit purwa, akan muncul seorang ksatria keturunan Saptaarga diikuti oleh Semar, Gareng, Petruk, Bagong. Cerita apa pun yang dipagelarkan, ke lima tokoh ini menduduki posisi penting. Kisah Mereka diawali mulai dari sebuah pertapaan Saptaarga atau pertapaan lainnya. Setelah mendapat berbagai macam ilmu dan nasihat-nasihat dari Sang Begawan, mereka turun gunung untuk mengamalkan ilmu yang telah diperoleh, dengan melakukan tapa ngrame. (menolong tanpa pamrih).

Dikisahkan, perjalanan sang Ksatria dan ke empat abdinya memasuki hutan. Ini menggambarkan bahwa sang ksatria mulai memasuki medan kehidupan yang belum pernah dikenal, gelap, penuh semak belukar, banyak binatang buas, makhluk jahat yang siap menghadangnya, bahkan jika lengah dapat mengacam jiwanya. Namun pada akhirnya Ksatria, Semar, Gareng, Petruk, Bagong berhasil memetik kemenangan dengan mengalahkan kawanan Raksasa, sehingga berhasil keluar hutan dengan selamat. Di luar hutan, rintangan masih menghadang, bahaya senantiasa mengancam. Berkat Semar dan anak-anaknya, sang Ksatria dapat menyingkirkan segala penghalang dan berhasil menyelesaikan tugas hidupnya dengan selamat.

Mengapa peranan Semar dan anak-anaknya sangat menentukan keberhasilan suatu kehidupan? Sudah dipaparkan pada dua tulisan sebelumnya, bahwa Semar merupakan gambaran penyelenggaraan Illahi yang ikut berproses dalam kehidupan manusia. Untuk lebih memperjelas peranan Semar, maka tokoh Semar dilengkapi dengan tiga tokoh lainnya. Ke empat panakawan tersebut merupakan simbol dari cipta, rasa, karsa dan karya. Semar mempunyai ciri menonjol yaitu kuncung putih. Kuncung putih di kepala sebagai simbol dari pikiran, gagasan yang jernih atau cipta. Gareng mempunyai ciri yang menonjol yaitu bermata kero, bertangan cekot dan berkaki pincang. Ke tiga cacat fisik tersebut menyimbolkan rasa. Mata kero, adalah rasa kewaspadaan, tangan cekot adalah rasa ketelitian dan kaki pincang adalah rasa kehati-hatian. Petruk adalah simbol dari kehendak, keinginan, karsa yang digambarkan dalam kedua tangannya. Jika digerakkan, kedua tangan tersebut bagaikan kedua orang yang bekerjasama dengan baik. Tangan depan menunjuk, memilih apa yang dikehendaki, tangan belakang menggenggam erat-erat apa yang telah dipilih. Sedangkan karya disimbolkan Bagong dengan dua tangan yang kelima jarinya terbuka lebar, artinya selalu bersedia bekerja keras. Cipta, rasa, karsa dan karya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Cipta, rasa, karsa dan karya berada dalam satu wilayah yang bernama pribadi atau jati diri manusia, disimbolkan tokoh Ksatria. Gambaran manusia ideal adalah merupakan gambaran pribadi manusia yang utuh, dimana cipta, rasa, karsa dan karya dapat menempati fungsinya masing-masing dengan harmonis, untuk kemudian berjalan seiring menuju cita-cita yang luhur. Dengan demikian menjadi jelas bahwa antara Ksatria dan panakawan mempunyai hubungan signifikan. Tokoh ksatria akan berhasil dalam hidupnya dan mencapai cita-cita ideal jika didasari sebuah pikiran jernih (cipta), hati tulus (rasa), kehendak, tekad bulat (karsa) dan mau bekerja keras (karya).

Simbolisasi ksatria dan empat abdinya, serupa dengan ‘ngelmu’ sedulur papat lima pancer. Sedulur papat adalah panakawan, lima pancer adalah ksatriya. Posisi pancer berada ditengah, diapit oleh dua saudara tua (kakang mbarep, kakang kawah) dan dua saudara muda (adi ari-ari dan adi wuragil). Ngelmu sedulur papat lima pancer lahir dari konsep penyadaran akan awal mula manusia diciptakan dan tujuan akhir hidup manusia (sangkan paraning dumadi). Awal mula manusia diciptakan di awali dari saat-saat menjelang kelahiran. Sebelum sang bayi (bayi, dalam konteks ini adalah pancer) lahir dari rahim ibu, yang muncul pertama kali adalah rasa cemas si ibu. Rasa cemas itu dinamakan Kakang mbarep. Kemudian pada saat menjelang bayi itu lahir, keluarlah cairan bening atau banyu kawah sebagai pelicin, untuk melindungi si bayi, agar proses kelahiran lancar dan kulit bayi yang lembut tidak lecet atau terluka. Banyu kawah itu disebut Kakang kawah. Setelah bayi lahir akan disusul dengan keluarnya ari-ari dan darah. Ari-ari disebut Adi ari-ari dan darah disebut Adi wuragil.

Ngelmu sedulur papat lima pancer memberi tekanan bahwa, manusia dilahirkan ke dunia ini tidak sendirian. Ada empat saudara yang mendampingi. Pancer adalah suksma sejati dan sedulur papat adalah raga sejati. Bersatunya suksma sejati dan raga sejati melahirkan sebuah kehidupan.

Hubungan antara pancer dan sedulur papat dalam kehidupan, digambarkan dengan seorang sais mengendalikan sebuah kereta, ditarik oleh empat ekor kuda, yang berwarna merah, hitam, kuning dan putih. Sais kereta melambangkan kebebasan untuk memutuskan dan berbuat sesuatu. Kuda merah melambangkan energi, semangat, kuda hitam melambangkan kebutuhan biologis, kuda kuning melambangkan kebutuhan rohani dan kuda putih melambangkan keheningan, kesucian. Sebagai sais, tentunya tidak mudah mengendalikan empat kuda yang saling berbeda sifat dan kebutuhannya. Jika sang sais mampu mengendalikan dan bekerjasama dengan ke empat ekor kudanya dengan baik dan seimbang, maka kereta akan berjalan lancar sampai ke tujuan akhir. Sang Sangkan Paraning Dumadi.

(herjaka)

51 responses to “Petuah Jawa

  1. Klo kurowo ada artinya ga om?? itu tadikan punokawan

  2. kadang kita lupa bahwa kita punya budaya yang begitu luhur,begitu agung..thanks for sharing

  3. aksara jawa bisa hidup jika mateni hurufnya.kadang apa kita tiruya .Mbok jangan jika bisa

    • Dian Kusuma Adi Winata

      Yg bener klo tidak salah “Aksoro jowo iku matine yen dipangku” atau dng kata lain akan menjadi konsonan saat bertemu pangkon.
      Secara filosofi bahwa orang jawa itu sebenarnya mempunyai kelebihan dalam hal tindak tanduk (apabila di mengerti dan di lakoni) sbg contoh : andhap asor
      Sehingga apabila menghadapi seseorang dng kita bisa membawa diri dan lemah lembut lembut (mangku/ memposisikan diri dng andhap asor), pasti yg akan menjadi lawan akan mati (lulut ataupun takluk/ bukan dlm arti mati yg sebenarnya)

  4. Bravo . . . . .
    .
    perfect. . .
    . .

  5. kalau buto cakil artinya apa om???

    • Sosok buta Cakil, lakon yang satu ini sangat menarik dari segi manapun. Dia adalah sosok raksasa bertubuh kurus kecil, giginya pating crongat, dan polahnya yang sungguh sangat kemlinthi dan biasanya keluar hanya satu kali itupun tidak terlalu lama, artinya dari sisi cerita pasti bukan merupakan sosok kunci dan dielu elukan kehadirannya, lakon ini muncul pada saat perang kembang dimulai berhadapan dengan kesatria dari pandhawa,…ending dari penampilannya adalah dia mati tertusuk oleh kerisnya sendiri.
      buto = raksasa
      cakil = keris
      gitu deh mas mbenk :D

  6. mari lestarikan budaya bangsa sendiri, dan jadikan budaya di dalam negeri sendiri, budaya barat belum tentu baik buat mengisi kehidupan ini

  7. Salam kenal, terima kasih atas sharing petuah Jawa-nya.
    Kunjungan baliknya di blog saya ditunggu.

  8. Joedi Moeljanto

    ngangsu kawruh …

  9. Luar Biasa !! Budaya Jawa Yang Adi Luhur sebenarnya sudah lengkap untuk bekal mengarungi kehidupan .Tapi seiring dinamika percaturan Global , tidak sedikit orang jawa yang sudah tidak Njawani . Monggo kita uri – uri budaya Jawi. Menawi mboten kita ? Sinten malih ????

    • leres kangmas, :) kalo tidak kita siapa lagi… adat ketimuran sedikit demi sedikit terkikis oleh jaman dan budaya luar, dan ini merupakan tugas bagi kita kangmas :), ra nggeh meniko kangmas

  10. Sosok buta Cakil, lakon yang satu ini sangat menarik dari segi manapun. Dia adalah sosok raksasa bertubuh kurus kecil, giginya pating crongat, dan polahnya yang sungguh sangat kemlinthi dan biasanya keluar hanya satu kali itupun tidak terlalu lama, artinya dari sisi cerita pasti bukan merupakan sosok kunci dan dielu elukan kehadirannya, lakon ini muncul pada saat perang kembang dimulai berhadapan dengan kesatria dari pandhawa,…ending dari penampilannya adalah dia mati tertusuk oleh kerisnya sendiri.buto = raksasacakil = kerisgitu deh mas mbenk
    +1

  11. matur nuwun pak dhe…………
    q iki wong jowo seng lali jawane…….
    kepingin ngerti adat istiadat wong jowo………………

  12. bangga rasanya jadi orang jawa..!!

  13. kreeen

  14. sebenarnya wayang itu sendiri asalnya dari mana dan kenapa di beri nama wayang,mohon penjelasannya

  15. Sucipto.G.Siswanto

    aslkmww, Matur kesuwon mas. Luar biasa….. padet, rapet penjelasannya.

  16. Tambah pengetahuanku tentang falsafah jawa. Andai kita khususnya sebagai orang jawa benar-benar melakukannya, wahhh tak terbayangkan betapa damainya dunia ini ey

  17. Aksara jawa sbnarnya petuah simpel,ketika aksara itu ditaling, ditarung,dipepet,disuku dst.maka aksara itu akan bertingkah. Ketika aksara itu di pangku,baru aksara itu akan mati. Ini sama halnya dengan orang jawa, mereka akan merendah jika mereka dihormati, semakin dihormati semakin merendah!

  18. setelah membaca pastinya kita sadr bhwa ternyata nilai budaya luhur kita sangat tinggi, namun mengpa sampai sekarang bangsa ini mengalami krisis nilai dari budaya kita sndiri, apalagi anak turun kita nanti????? monggo dulur2 bareng2 melestarikan budaya kita agar generasi kita nanti masih mengenal nilai2 itu…

  19. bos aq ingin mendalami tentang S45P,gmn caranya n hrs cr pembibing ea bos,,,,,,,?mksh

  20. apik tenan rek ,,, ( wes ra sah repot – repot saikkki coy….. “ayo lesterekno budoyone awake dewek . . . . )

  21. artikel yang menarik sekali, sayang respon dan animo pembaca kurang atau karena blog-nya kurang dikenal ya?? maaf.

    • Injeh Pakde mboten nopo-nopo, maturnuwun tapi Alhamdulillah setidaknya sekecil apapun coba kita lestarikan dan pegang teguh dari nenek moyang, jangan sampai hilang.

  22. Benernya blog ini bagus.. sayang bacanya pusing karena wallpapernya yang g sesuai :(

  23. lestarikan budaya kita,
    tapi tolong artinya secara bahasa juga diperhatikan,
    agar anak cucu kita tidak salah memahami.
    contoh : ing madyo = di tengah / diantara
    jangan diartikan yang lain.

    Terimakasih n sukses wat bangsa kita.

  24. matur nuwun ” uri uri budoyo jawi” melu handarbeni

  25. Subhanallah betapa indah dan luhur sekali petuah2 jawa, semoga selalu dipelihara oleh semua orang jawa dan dipegang teguh sebagai prinsip dan kekuatan dalam hidup dan kehidupan, amiiin YRA.

  26. Sayang kbayakan org jawa skrg ilang jawane…

    Smoga petuah jawa bs d resapi dan di amalkan bnyak org.

    • betul pakde, miris memang saat saya berbicara dengan bahasa jawa, sebagian orang menjawab dengan bahasa indonesia karena gengsi, kok bisa seperti itu? heran juga. ilang njowone :(
      maturnuwun sudah mampir Pakde

  27. Sae meniko petuahipun.

    Matursuwun. Cobi kulo amalaken.

  28. Ada gak ya,yang mengulas tentang ilmu jawa.-kaya kitab darmogandul

  29. davidekoprabowo@yahoo.co.id

    kabeh kui bener… saiki awake dw iso ngakoni ora?? simbah2 lulus kui

  30. iponk_eror@yahoo.com

    opo makna ne poso kelairan om??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s