Kidung Rumeksa ing Wengi
—————————————–
karya : Kanjeng Sunan KaliJogo ( Kanjeng Raden Said )
yang mau download mp3 nya silahkan download disini – http://www.4shared.com/get/MZaCRlu1/-kidung_rumeksa_ing_wengi.html
ini merupakan gabungan antara kebudayaan jawa dan Do’a agama islam, banyak makna terkandung didalamnya, Diantaranya adalah Do’a meminta dari kesembuhan penyakit dan dijauhkan dari bala.
cekidot
Ana kidung rumekso ing wengi
Teguh hayu luputa ing lara
luputa bilahi kabeh
jim setan datan purun
paneluhan tan ana wani
miwah panggawe ala
gunaning wong luput
geni atemahan tirta
maling adoh tan ana ngarah ing mami
guna duduk pan sirno
Sakehing lara pan samya bali
Sakeh ngama pan sami miruda
Welas asih pandulune
Sakehing braja luput
Kadi kapuk tibaning wesi
Sakehing wisa tawa
Sato galak tutut
Kayu aeng lemah sangar
Songing landhak guwaning
Wong lemah miring
Myang pakiponing merak
Pagupakaning warak sakalir
Nadyan arca myang segara asat
Temahan rahayu kabeh
Apan sarira ayu
Ingideran kang widadari
Rineksa malaekat
Lan sagung pra rasul
Pinayungan ing Hyang Suksma
Ati Adam utekku baginda Esis
Pangucapku ya Musa
Napasku nabi Ngisa linuwih
Nabi Yakup pamiyarsaningwang
Dawud suwaraku mangke
Nabi Brahim nyawaku
Nabi Sleman kasekten mami
Nabi Yusuf rupeng wang
Edris ing rambutku
Baginda Ngali kuliting wang
Abubakar getih daging
singgih
Balung baginda ngusman
Sumsumingsun Patimah linuwih
Siti aminah bayuning angga
Ayup ing ususku mangke
Nabi Nuh ing jejantung
Nabi Yunus ing otot mami
Netraku ya Muhamad
Pamuluku Rasul
Pinayungan Adam Kawa
Sampun pepak sakathahe para nabi
Dadya sarira tunggal
Arti dalam bahasa Indonesia
——————————————–
Ada kidung yang mengalun di tengah malam
Yang menjadikan kuat selamat terbebas dari semua penyakit
Terbebas dari segala petaka
Jin dan setanpun tidak mau
Segala jenis sihir tidak berani
Apalagi perbuatan jahat
guna-guna tersingkir
Api menjadi air
Pencuripun menjauh dariku
Segala bahaya akan lenyap
Semua penyakit pulang ketempat asalnya
Semua hama menyingkir dengan pandangan kasih
Semua senjata tidak mengena
Bagaikan kapuk jatuh dibesi
Segenap racun menjadi tawar
Binatang buas menjadi jinak
Pohon ajaib, tanah angker,
lubang landak, gua orang,
tanah miring dan sarang merak
Kandangnya semua badak
Meski batu dan laut mengering
Pada akhirnya semua slamat
Sebab badannya selamat dikelilingi oleh bidadari,
yang dijaga oleh malaikat, dan semua rasul dalam lindungan Tuhan
Hatiku Adam dan otakku nabi Sis
Ucapanku adalah nabi Musa
Nafasku nabi Isa yang teramat mulia
Nabi Yakup pendenganranku
Nabi Daud menjadi suaraku
Nabi Ibrahim sebagai nyawaku
Nabi Sulaiman menjadi kesaktianku
Nabi Yusuf menjadi rupaku
Nabi Idris menjadi rupaku
Ali sebagai kulitku
Abubakar darahku dan Umar dagingku
Sedangkan Usman sebagai tulangku
Sumsumku adalah Fatimah yang amat mulia
Siti fatimah sebagai kekuatan badanku
Nanti nabi Ayub ada didalam ususku
Nabi Nuh didalam jantungku
Nabi Yunus didalam otakku
Mataku ialah Nabi Muhamad
Air mukaku rasul dalam lindungan Adam dan Hawa
Maka lengkaplah semua rasul, yang menjadi satu badan
sungguh luar biasa!!!!
****************************************************************************************************

Dua puluh Aksara Jawa yang tersusun dalam empat baris itu dalam sejarahnya memiliki muatan cerita :
Ono Caroko = ada utusan (abdi setia)
Doto Sawolo = saling berseteru
Podho Joyonyo = sama-sama sakti
Mogo Bothongo = Keduanya jadi bangkai
Filsafat Jawa kuno ini mengajarkan diperlukannya koordinasi, sinergi, komunikasi satu sama lain dan juga mawas diri.
sedangkan arti dari persatu katanya adalah
HA NA CA RA KA:
Ha: Hurip = hidup
Na: Legeno = telanjang
Ca: Cipta = pemikiran, ide ataupun kreatifitas
Ra: Rasa = perasaan, qalbu, suara hati atau hati nurani
Ka: Karya = bekerja atau pekerjaan.
Jadi HA NA CA RA KA bisa ditafsirkan bahwa manusia “dihidupkan” atau dilahirkan ke dunia ini dalam keadaan “telanjang”. Telanjang di sini dalam artian tidak mempunyai apa-apa selain potensi. Oleh karena itulah manusia harus dapat mengembangkan potensi bawaan tersebut dengan cipta-rasa-karsa. Cipta-rasa-karsa merupakan suatu konsep segitiga (segitiga merupakan bentuk paling kuat dan seimbang) antara otak yang mengkreasi cipta, hati/kalbu yang melakukan fungsi kontrol atau pengawasan dan filter (dalam bentuk rasa) atas segala ide-pemikiran dan kreatifitas yang dicetuskan otak, serta terakhir adalah raga/tubuh/badan yang bertindak sebagai pelaksana semua kreatifitas tersebut (setelah dinyatakan lulus sensor oleh rasa sebagai badan sensor manusia).
Secara ideal memang semua perbuatan (karya) yang dilakukan oleh manusia tidak hanya semata hasil kerja otak tetapi juga “kelayakannya” sudah diuji oleh rasa. Rasa idealnya hanya meloloskan ide-kreatifitas yang sesuai dengan norma. Norma di sini memiliki arti yang cukup luas, yaitu meliputi norma internal (perasaan manusia itu sendiri atau istilah kerennya kata hati atau suara hati) atau bisa juga merupakan norma eksternal (dari Tuhan yang berupa agama dan aturannya atau juga norma dari masyarakat yang berupa aturan hukum dll).
(2) DA TA SA WA LA: (versi pertama)
Da: Dodo = dada
Ta: Toto = atur
Sa: Saka = tiang penyangga
Wa: Weruh = melihat
La: lakuning Urip = (makna) kehidupan.
DA TA SA WA LA berarti dadane ditoto men iso ngadeg jejeg (koyo soko) lan iso weruh (mangerteni) lakuning urip. Dengarkanlah suara hati (nurani) yang ada di dalam dada, agar kamu bisa berdiri tegak seperti halnya tiang penyangga dan kamu juga akan mengerti makna kehidupan yang sebenarnya.
Kata “atur” bisa berarti manage dan juga evaluate sedangkan dada sebenarnya melambangkan hati (yang terkandung di dalam dada). Jadi dadanya diatur mengandung arti bahwa kita harus senantiasa me-manage (menjaga-mengatur) hati kita untuk melakukan suatu langkah evaluatif dalam menjalani kehidupan supaya kita dapat senantiasa berdiri tegak dan tegar dalam memandang dan memaknai kehidupan. Kita harus senantiasa memiliki motivasi dan optimisme dalam berusaha tanpa melupakan kodrat kita sebagai makhluk Alloh yang dalam konsep Islam dikenal dengan ikhtiar-tawakal, ikhtiar adalah berusaha semaksimal mungkin sedangkan tawakal adalah memasrahkan segala hasil usaha tersebut kepada Alloh.
DA TA SA WA LA: (versi kedua)
Da-Ta (digabung): dzat = dzat
Sa: Satunggal = satu, Esa
Wa: Wigati = baik
La: Ala = buruk
DA TA SA WA LA bisa ditafsirkan bahwa hanya Dzat Yang Esa-lah (yaitu Tuhan) yang benar-benar mengerti akan baik dan buruk. Secara kasar dan ngawur saya mencoba menganggap bahwa kata “baik” di sini ekuivalen dengan kata “benar” sedangkan kata “buruk” ekuivalen dengan “salah”. Jadi alangkah baiknya kalau kita tidak dengan semena-mena menyalahkan orang (kelompok) lain dan menganggap bahwa kita (kelompok kita) sebagai pihak yang paling benar.
(3) PA DHA JA YA NYA:
PA DHA JA YA NYA = sama kuat
Pada dasarnya/awalnya semua manusia mempunyai dua potensi yang sama (kuat), yaitu potensi untuk melakukan kebaikan dan potensi untuk melakukan keburukan. Mungkin memang benar ungkapan bahwa manusia itu bisa menjadi sebaik malaikat tetapi bisa juga buruk seperti setan dan juga binatang. Mengingat adanya dua potensi yang sama kuat tersebut maka selanjutnya tugas manusialah untuk memilih potensi mana yang akan dikembangkan. Sangat manusiawi dan lumrah jika manusia melakukan kesalahan, tetapi apakah dia akan terus memelihara dan mengembangkan kesalahannya tersebut? Potensi keburukan dalam diri manusia adalah hawa nafsu, sehingga tidak salah ketika Nabi Muhammad SAW menyatakan bahwa musuh terbesar kita adalah hawa nafsu yang bersemayam dalam diri kita masing-masing.
(4) MA GA BA THA NGA:
Ma: Sukma = sukma, ruh, nyawa
Ga: Raga = badan, jasmani
Ba-Tha: bathang = mayat
Nga: Lungo = pergi
Secara singkat MA GA BA THA NGA saya artikan bahwa pada akhirnya manusia akan menjadi mayat ketika sukma atau ruh kita meninggalkan raga/jasmani kita. Sesungguhnya kita tidak akan hidup selamanya dan pada akhirnya akan kembali juga kepada Alloh. Oleh karena itu kita harus senantiasa mempersiapkan bekal untuk menghadap Alloh.
***********************************************************************************************
NYEBAR GODHONG KORO
NYEBAR GODHONG KORO, SABAR SAKWETORO…Harfiah nasihat Mbah ini berarti bahwa kita harus sabar mulai sedini mungkin dan mulai sekarang juga dalam segala hal dalam kehidupan… toh kesabaran itu tiada batasannya.
contoh kesabaran tiada batas ada banyak, salah satunya adalah: sabarlah jika Alloh SWT menjadi Tuhanmu, jika tak sabar cari saja Tuhan yang lain ![]()
dan sabar itu setengah dari iman kita, jadi yang bisa menguasai sabar dalam hatinya, dia sudah mendapatkan iman setengah dari hidup kita
…. sabar memang pahit, namun hasil kesabaran itu adalah manis.
contoh: apabila kita sedang sakit duh ga enak rasanya, duh lagi sakitmah makan paria juga pait
…sebenarnya sakit itu adalah kifarat dari dosa kita, maka sabarlah,, apabila sudah sembuh hilanglah dosa kita
amiiinnn…
JER BASUKI MOWO BEYO
Harfiah dari petuah jawa ini mengandung arti : semua keberhasilan selalu membutuhkan pengorbanan
ING MADYO MANGUN KARSO
Ing madyo mangun karso, pribahasa ini mengandung makna : Bahwa perubahan besar bermula dari sebuah langkah kecil
arti lebih besarnya Keinginan,Cita-cita dan Harapan yang besar/tinggi tidak akan terwujud kecuali kita memperjuangkannya, dan perjuangan berawal dari merangkak/langkah yang kecil…
ALON ALON ASAL KELAKON
Memang Alon alon adalah arti dari pelan-pelan atau perlahan, tapi kan sampai juga!… Alon alon asal kelakon dalam kehidupan mengandung makna Sabar, santai saja perlahan-lahan saja yang penting sampai di tujuan dengan selamat, dan terkabul segala keinginan….
OJO DUMEH
Ojo Dumeh hanya dua kata tapi mengandung makna yang BESAR sekali bahkan sebagian orang beranggapan Ojo Dumeh adalah pribahasa sapu jagat,, makna dari ojo dumeh itu adalah jangan sombong, jangan semena mena, jangan mentang-mentang… menurut penelitian (ciyeeee) saya selalu mengadakan wawancara, berbincang dan survey sebagian dari para orang-orang tua atau si Mbah, Ojo dumeh itu harfiahnya adalah ungkapan menasehati contoh : Ojo Dumeh gek kuoso, mengko nek dadi diece uwong…. (indonesia) = Jangan mentang-mentang berkuasa nanti bisa-bisa kamu direndahkan oleh orang lain… ada pula: Ojo Dumeh gek urip, mengko pasti mati… (indonesia) = Jangan mentang-mentang bisa hidup bertingkah laku seenaknya , nanti kamu pasti mati… ada pula: Ojo Dumeh iso ngomong, mengko nek dadi bisu… (indonesia) = Jangan mentang-mentang bisa bicara, bicara seenaknya melukai hati orang lain, nanti kalo bisu baru tau rasa… dan masih banyak lagi, makanya ini pribahasa adalah sapu jagat kata si Mbah… awas loh bisi kualat heuheuheu….
SEPI ING PAMRIH RAME ING GAWE
Wong njawi, Tiang njawi atau Orang Jawa selalu memegang teguh dalam hati Semboyan yang ada dari zaman nenek moyang… sepi ing pamrih rame ing gawe arti harfiahnya adalah = selalu bekerja, berkarya, berkorban tenaga, jiwa bahkan nyawa untuk membela apa yang menjadi keyakinan….. bekerja dan berkorban tiada henti demi Negara, Agama, Tanah Air yang di cintai tanpa sedikitpun pamrih…. saya sendiri ingin selalu memegang teguh semboyan ini hingga hembusan nafas terakhir… orang jawa yakin Walau didunia ini berkorban tanpa pamrih.. di akherat nanti mendapat kejayaan yang panjang tiada akhir!!!! Amiin
BECIK KETITIK OLO KETORO
Becik ketitik olo ketoro adalah pribahasa yang mengandung makna dan arti jika suatu kebenaran/ perbuatan baik ditutup-tutupi maka lambat laun ia akan muncul juga, dan sepandai-pandainya menyimpan bangkai busuk/ perbuatan tercela dan kebusukan hati maka lama-lama baunya akan tercium juga.
***********************************************************************************************
|
Dalam perkembangan selanjutnya, hadirnya Semar sebagai pamomong keturunan Saptaarga tidak sendirian. Ia ditemani oleh tiga anaknya, yaitu; Gareng, Petruk, Bagong. Ke empat abdi tersebut dinamakan Panakawan. Dapat disaksikan, hampir pada setiap pegelaran wayang kulit purwa, akan muncul seorang ksatria keturunan Saptaarga diikuti oleh Semar, Gareng, Petruk, Bagong. Cerita apa pun yang dipagelarkan, ke lima tokoh ini menduduki posisi penting. Kisah Mereka diawali mulai dari sebuah pertapaan Saptaarga atau pertapaan lainnya. Setelah mendapat berbagai macam ilmu dan nasihat-nasihat dari Sang Begawan, mereka turun gunung untuk mengamalkan ilmu yang telah diperoleh, dengan melakukan tapa ngrame. (menolong tanpa pamrih). 
Klo kurowo ada artinya ga om?? itu tadikan punokawan
kadang kita lupa bahwa kita punya budaya yang begitu luhur,begitu agung..thanks for sharing
aksara jawa bisa hidup jika mateni hurufnya.kadang apa kita tiruya .Mbok jangan jika bisa
Bravo . . . . .
.
perfect. . .
. .
kalau buto cakil artinya apa om???
Sosok buta Cakil, lakon yang satu ini sangat menarik dari segi manapun. Dia adalah sosok raksasa bertubuh kurus kecil, giginya pating crongat, dan polahnya yang sungguh sangat kemlinthi dan biasanya keluar hanya satu kali itupun tidak terlalu lama, artinya dari sisi cerita pasti bukan merupakan sosok kunci dan dielu elukan kehadirannya, lakon ini muncul pada saat perang kembang dimulai berhadapan dengan kesatria dari pandhawa,…ending dari penampilannya adalah dia mati tertusuk oleh kerisnya sendiri.
buto = raksasa
cakil = keris
gitu deh mas mbenk
mari lestarikan budaya bangsa sendiri, dan jadikan budaya di dalam negeri sendiri, budaya barat belum tentu baik buat mengisi kehidupan ini
Salam kenal, terima kasih atas sharing petuah Jawa-nya.
Kunjungan baliknya di blog saya ditunggu.
ngangsu kawruh …
Luar Biasa !! Budaya Jawa Yang Adi Luhur sebenarnya sudah lengkap untuk bekal mengarungi kehidupan .Tapi seiring dinamika percaturan Global , tidak sedikit orang jawa yang sudah tidak Njawani . Monggo kita uri – uri budaya Jawi. Menawi mboten kita ? Sinten malih ????
leres kangmas,
kalo tidak kita siapa lagi… adat ketimuran sedikit demi sedikit terkikis oleh jaman dan budaya luar, dan ini merupakan tugas bagi kita kangmas
, ra nggeh meniko kangmas
Sosok buta Cakil, lakon yang satu ini sangat menarik dari segi manapun. Dia adalah sosok raksasa bertubuh kurus kecil, giginya pating crongat, dan polahnya yang sungguh sangat kemlinthi dan biasanya keluar hanya satu kali itupun tidak terlalu lama, artinya dari sisi cerita pasti bukan merupakan sosok kunci dan dielu elukan kehadirannya, lakon ini muncul pada saat perang kembang dimulai berhadapan dengan kesatria dari pandhawa,…ending dari penampilannya adalah dia mati tertusuk oleh kerisnya sendiri.buto = raksasacakil = kerisgitu deh mas mbenk
+1
matur nuwun pak dhe…………
q iki wong jowo seng lali jawane…….
kepingin ngerti adat istiadat wong jowo………………
nggeh sami sareng kulo
…
bangga rasanya jadi orang jawa..!!
betul sekali kangmas
saya juga sangat bangga sekali.
kreeen
makasih dah mampir kangmas
sebenarnya wayang itu sendiri asalnya dari mana dan kenapa di beri nama wayang,mohon penjelasannya
aslkmww, Matur kesuwon mas. Luar biasa….. padet, rapet penjelasannya.
sami-sami pakde
Tambah pengetahuanku tentang falsafah jawa. Andai kita khususnya sebagai orang jawa benar-benar melakukannya, wahhh tak terbayangkan betapa damainya dunia ini ey
leres saestu
, akan terasa damai bila semua memahami arti sesungguhnya
Aksara jawa sbnarnya petuah simpel,ketika aksara itu ditaling, ditarung,dipepet,disuku dst.maka aksara itu akan bertingkah. Ketika aksara itu di pangku,baru aksara itu akan mati. Ini sama halnya dengan orang jawa, mereka akan merendah jika mereka dihormati, semakin dihormati semakin merendah!
saya setuju dengan panjenengan… mantafff sekali kata-kata panjenengan
setelah membaca pastinya kita sadr bhwa ternyata nilai budaya luhur kita sangat tinggi, namun mengpa sampai sekarang bangsa ini mengalami krisis nilai dari budaya kita sndiri, apalagi anak turun kita nanti????? monggo dulur2 bareng2 melestarikan budaya kita agar generasi kita nanti masih mengenal nilai2 itu…
bos aq ingin mendalami tentang S45P,gmn caranya n hrs cr pembibing ea bos,,,,,,,?mksh
apik tenan rek ,,, ( wes ra sah repot – repot saikkki coy….. “ayo lesterekno budoyone awake dewek . . . . )
siappp paklik
Jadi inget pakde qu
krren
artikel yang menarik sekali, sayang respon dan animo pembaca kurang atau karena blog-nya kurang dikenal ya?? maaf.
Injeh Pakde mboten nopo-nopo, maturnuwun tapi Alhamdulillah setidaknya sekecil apapun coba kita lestarikan dan pegang teguh dari nenek moyang, jangan sampai hilang.
Benernya blog ini bagus.. sayang bacanya pusing karena wallpapernya yang g sesuai
lestarikan budaya kita,
tapi tolong artinya secara bahasa juga diperhatikan,
agar anak cucu kita tidak salah memahami.
contoh : ing madyo = di tengah / diantara
jangan diartikan yang lain.
Terimakasih n sukses wat bangsa kita.
Baik Pakde, Laksanaken… maturnuwun sudah mampir
matur nuwun ” uri uri budoyo jawi” melu handarbeni
mantap, lanjutkan… matursembahnuwun pakde
Subhanallah betapa indah dan luhur sekali petuah2 jawa, semoga selalu dipelihara oleh semua orang jawa dan dipegang teguh sebagai prinsip dan kekuatan dalam hidup dan kehidupan, amiiin YRA.
Amiin.. YRA… terimakasih Om Indra sudah mampir..
Sayang kbayakan org jawa skrg ilang jawane…
Smoga petuah jawa bs d resapi dan di amalkan bnyak org.
betul pakde, miris memang saat saya berbicara dengan bahasa jawa, sebagian orang menjawab dengan bahasa indonesia karena gengsi, kok bisa seperti itu? heran juga. ilang njowone
maturnuwun sudah mampir Pakde
Sae meniko petuahipun.
Matursuwun. Cobi kulo amalaken.
Sami-sami Pakde, maturnuwun sampun lenggah teng mriki
Sami sami. Wonten crito liyane mboten
Ada gak ya,yang mengulas tentang ilmu jawa.-kaya kitab darmogandul
Boleh jg nie..